Sabtu, 18 Oktober 2014

Nasehat

Terjemah surat Al'Ashr

1. Demi masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran

Renungan

Sebetulnya malam ini ingin membuka kitab tafsir, tapi apa daya perpustakaannya sudah dikunci dan saya tidak bisa membukanya.

Tapi saya merenung, semoga renungan saya dekat dengan kebenaran.

Sungguh agama ini dibangun dengan nasehat. Bahkan nasehat menasehati. Artinya tidak hanya memberi nasehat, tapi juga mau dinasehati.

Tentang apa nasehatnya? Tentu saja sesuai ayat diatas, salah satu tujuannya adalah supaya mentaati kebenaran. Sifat manusia yang suka lupa dan khilaf memang harus sering menerima nasehat agar tidak terlampau jauh keluar dari kebenaran dan selalu berada dijalan yang lurus.

Tapi ternyata, menerima nasehat itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa menerima nasehat. Butuh hati yang lapang dan longgar untuk bisa menerima nasehat dari saudaranya. Pun cara menasehati juga ada cara-caranya. Tidak sembarangan memberi nasehat, karena salah-salah justru berdosa

Memberi nasehat adalah dengan cara yang ma'ruf. Cukup berdua saja dan tidak dihadapan banyak orang, karena nanti terhitung merendahkannya. Cara penyampaian juga lemah lembut dan disertai dengan alasan atau dalil aqli maupun naqli yang kuat.

Diberi nasehat haruslah menerima dengan hati yang lapang dan longgar. Penuh kesadaran bahwa saudaranya yang menasehatinya ini adalah sedang mencintainya dan tidak ingin dirinya terus melakukan kesalahan tanpa disadari. Juga penuh keikhlasan menerima bila memang nasehatnya itu benar. Bila salah atau tidak cocok dengan keadaan dirinya yang sesungguhnya, tidak serta merta marah tetapi menganggapnya sebagai masukan atau ilmu yang berharga.

Jangan pernah bosan atau lelah memberi nasehat dan dinasehati. Supaya jalan hidup ini terus terjaga bersama orang-orang tercinta.

Saya dulu termasuk orang yang mudah sakit hati bila dinasehati. Saya menganggap orang yang menasehati saya adalah orang yang sok baik padahal dirinya juga penuh kesalahan.

Hingga akhirnya ada seseorang yang menasehati saya dengan penuh keikhlasan, sehingga membuka mata hati saya. Sejak saat itu, saya mulai menerima nasehat dengan senang hati. Awalnya masih tersisa ganjalan di hati. Tapi lama-lama saya berhasil.mengikisnya.

Dan akhirnya saya pun semakin haus nasehat. Seseorang itu semakin sering menasehati saya, walau saya tidak sedang berbuat kesalahan.

Contohnya begini.

Seseorang itu menasehati saya agar saya selalu menghindari riya. Apakah itu berarti selama ini saya selalu riya? Belum tentu. Tetapi dengan adanya nasehat, saya jadi berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan agar terhindar dari riya. Ya, itulah fungsi nasehat. Selain meluruskan kesalahan, juga bisa mencegah kesalahan.

Saya juga akhirnya bisa merasakan ngeri ketika seseorang tersebut berkata seperti ini.

"Saya malas sekali menasehati si A. Kalau dinasehati diam dan memberengut marah. Saya didiamkan dan tidak disapa. Lain kali saya tidak akan menasehatinya walau dia melakukan kesalahan."

Walau kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar, bahwa kita tidak boleh berputus asa dalam amar ma'ruf nahi munkar. Tetapi sikap tidak baik yang ditunjukkan menyebabkan orang yang sering memberi nasehat saja bisa malas.mendekatinya. Apalagi seseorang yang saya maksud itu adalah seorang yang sudah berusia lanjut sementara si A masih sangat muda.

Saya ngeri. Apabila itu terjadi pada diri saya, maka saya akan dibiarkan melakukan kesalahan berulang tanpa saya sadari. Saya benar-benar akan berada dalam kerugian. Na'udzubillahi min dzalik.

Padahal si A yang dimaksud tadi melakukan kesalahan yang besar. Sebagai seorang istri, dia menggunakan dalil bahwa istrinya Umar bin Khottob mengomel saja dibiarkan. Maka jadilah dia mengomel sepanjang hari setiap hari. Suaminya disuguhi omelan bahkan makian sebagai santapan harian. Sebagai ibu dia juga suka memarahi anaknya yang masih sangat kecil agar patuh kepadanya. Sikapnya juga tidak menghormati orang yang tidak disukainya, dengan melengos, sengaja mendiamkan dan sebagainya.

Kesalahan yang besar, bukan? Tapi hingga saat ini tidak ada satupun yang mau menasehatinya dengan alasan yang sama. Mudah-mudahan Allah membuka hati saudara kita si A ini dengan cara yang tidak disangka-sangka dan itu cara yang baik.

Intinya, saya mengajak diri saya sendiri dan kawan-kawan semua untuk bisa berlapang dada dalam menerima nasehat. Sehingga ketika ada yang menasehati, kita akan merasa diingatkan dan diajak untuk.kembali ke jalan yang lurus. Kita akan merasa dicintai dengan nasehat. Nasehat menjadi kado cinta terindah dari saudara kita.

Wallahu a'lam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar